"Kenapa,Ra ?" Firman menepuk pundak Zahara.
"Gue benci liat muka 'tu cowok !" Bentak Zahara.
"Loe kaga' boleh gitu,Ra. Masih banyak tuh' cowok di dunia ini,bukan cuman dia." Firman menasehati Zahara.
Tanpa banyak bicara,bergegas Zahara berdiri. "Fuck buat para cowok ! Najis gue pacaran .." Nampak air mata membasahi pipi Zahara yang kemudian pergi meninggalkan sungai yang berada di tengah hutan itu.
"Halah anak cewek bisanya kaya begitu mulu,baru di putusin cowok langsung putus asa...hahah untung gue bukan cewek...!" Firman terkekeh menertawakan sifat sahabatnya itu.
Zahara dan Firman telah lama menjalin sebuah persahabatan,kurang lebih tiga tahun. Dari mulai masuk SMP kelas 7 sampai sekarang ini persahabatan mereka berjalan dengan begitu harmonis.
"Loe cerita dong sama gue,loe punya masalah apa ? Kalau gue bisa bantu kita pecahin masalah ini bareng-bareng. Jangan ditanggung sendiri..." Kata Firman sambil mengikuti langkah kaki Zahara yang begitu cepat. Tak terdengar sepatah kata pun yang terlontar dari mulut Zahara,hanya kegelisahan hati yang bisa ia tampakan pada dirinya. Ternyata kegelisahan itu membuat Firman khawatir.
Tanpa rasa lelah Firman terus saja mengikuti langkah Zahara. "Langkah loe kaya ngga ada ujungnya,Ra.." Seru Firman sambil memandangi lingkungan sekitar hutan itu.
"Ngapain juga loe ikutin gue ?" Jawab Zahara dengan nada yang tertahan bagaikan suara orang yang tak bernyawa lagi.
" Lho kok gitu sih,Ra ?" Firman menghentikan langkahnya. "Dengerin gue ya,gue pengen sendirian dulu,gue ngga mau diganggu sama siapapun. Jadi,gue mohon sama loebiarin gue sendiri di sini,ok ?" Kata Zahara mulai melemah. "Ok kalau itu mau loe,gue turutin." Kata Firman sambil pergi berlalu meninggalkan Zahara di tengah hutan yang gelap. Tetapi,nyatanya Firman tidak pergi meninggalkan Zahara,ia hanya bersembunyi di balik semak-semak untuk memata-matai Zahara.
Tak terdengar suara apa pun dari hutan itu,hanya lolongan anjing yang terdengar hanya untuk memperindah suasana hening di kala itu. Tetesan air mata bergelinang di kedua pipi Zahara,isak tangis semakin membuat Zahara terlarut dalam kesenduan hatinya. Kebahagiaan yang ia miliki selama ini sirna begitu saja bagaikan debu yang tertiup angin,tak tersisa sedikit pun.
"Zahara ngapain sih di hutan kaya gini,pake pengen sendirian lagi?" Bisik Firman dalam hati.
Tak begitu lama Zahara pun berkata " Tuhan,lebih baik kau ambil nyawaku daripada aku terbiarkan tenggelam dalam rasa cemburu dan takut akan kehilangan sebuah makna cinta,dan aku mohon buanglah rasa cintaku ini jika kau tak menghendaki aku bahagia bersamanya...," Kata-kata itu sontak memecahkan keheningan di sore itu.
"Dan satu lagi pintaku,tolong jaga Firman ya Tuhan,jaga dia dari pergaulan yang negatif jangan sampai dia terpengaruh ... tuntunlah dia kejalan yang benar." Sambung Zahara sambil mengeluarkan sebilah pisau tajam dari dalam tasnya.
Hanya dalam waktu beberapa detik cucuran darah begitu banyak keluar dari pergelangan tangan Zahara. Sontak teriakan Firman membuat suasana semakin mencekam,teriakan itu terdengar bagaikan halilintar yang menggelegar. "Ra,kenapa loe lakuin ini semua ? Loe tau ngga,loe tuh' udah nyakitin diri loe sendiri ...!!" Firman merangkul raga Zahara yang mungkin tak bernyawa lagi
"Kalau kaya gini,mendingan gue mati juga.." Kata - kata itu menyertai Firman yang hendak bunuh diri. Tusukan demi tusukan kini telah dibuatnya.
Sekarang yang tersisa hanyalah dua raga yang tak bernyawa lagi. Dan sekarang kedua sahabat itu telah pergi meninggalkan dunia nyata,menuju alam akhirat.
THE END
